Assalamu’alaykum, heyyhooo ketemu lagi yeahh
Sudah dijawabkan pertanyaan-petanyaan yang tadi? Udah
dicatet kan? Hah, belum? CUPS! Hehe canda ๐
Kalo belum, nih jawab dulu pertanyaan di
sini
Oke balik lagi, tulisan ini adalah tulisan dari guru
saya, orang hebat yang super zuper mega ultra kece badai puting beliung tornado
biang lala kora-kora roller coaster istana boneka. Hehe hehe piss canda bang ๐
Mau tau salah satu kehebatannya sepeti apa?
“BELIAU, KALO NGANGKAT GALON KE DISPENSER, AIRNYA KAGAK
TUMPAH”
Keren kan? /iyalah, kan kagak ada airnya
Wkwk maaf bercanda bang ๐v.
Tapi jujur, beliau ini bener-bener orang hebat, salah
satu oang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan saya, InsyaAllah jika ada
kesempatan, saya akan bercerita tentang beliau ๐
Oke balik lagi, mulai fokus.
Tulisan ini saya repost
melihat keadaan saat ini sugguh sangat membingungkan, terlebih saat akhir-akhir
ini sulit membedakan mana yang haq, dan mana yang bathil. Yuk ah nyimeng *eh /kachauu. Yuk ah nyimak ๐.
Oleh: Dhezun
Jadi, pertanyaan sebelumnya adalah pertanyaan
sekaligus pernyataan yang sering dilontarkan oleh mereka penggiat liberalisme,
sekulerisme, pluralisme dan relativisme.
Seperti
iblis yang datang kepada Hawa
dan Adam, ia datang
dengan ucapan manis sehingga adam dan hawa tertipu dengan tipu dayanya,
begitulah strategi iblis dalam mensesatkan manusia, yang terus diwariskan untuk
menyesatkan manusia.
Jika
kita jeli, pernyataan pertama adalah jebakan dari mereka penganut liberalisme.
Indah sekali, kampanye untuk memberikan hak yang sama untuk tampil di depan
publik, tanpa pandang agama, ras, budaya, gender, pendidikan dan lainnya,
terlihat adil dan bijaksana, bukan? Jika memang anda setuju, selamat anda masuk
ke dalam jebakan mereka. Bagaimana mungkin kita memberikan kesempatan hak
bicara yang sama untuk para pendeta, biksu, rahib untuk memberikan ceramah pada
khotbah jumat? Untuk mengisi majelis ta'lim? Atau menjadi guru di
pesantren-pesantren? Bagaimana mungkin kita memberikan kesempatan anak TK untuk
memberikan mata kuliah kepada para calon doktor? Bagaimana mungkin??? Jika
mungkin, hancurlah peradaban ini...
Pernyataan
kedua adalah jebakan dari kaum sekulerisme. Mereka
mencoba memisahkan urusan agama dengan urusan dunia. Agama tempatnya di masjid,
di gereja, di wihara, di sinagog, jangan masuk ke urusan politik, ekonomi dan
lain sebagainya. Agama urusan pribadi, jangan libatkan dalam aktifitas sosial.
Begitu kata mereka... Tapi islam tidak begitu, islam adalah agama yang besar,
agama yang sempurna, agama yang mengatur dari hal kecil sampai hal yang besar.
Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Mulai dari urusan makan sampai
urusan kenegaraan.
Agama
lain bangkit karena meninggalkan agama mereka, sedangkan islam mundur karena
meninggalkan agama mereka. Agama lain bangkit karena meninggalkan agama mereka,
karena ajaran ajaran mereka banyak yang bertentangan dengan fakta fakta ilmiah
kehidupan, sehingga bila terus diikuti doktrin tersebut hanya akan menyesatkan
dan memundurkan manusia. Sedangkan islam selalu sejalan dengan fakta-fakta
ilmiah kehidupan, sehingga akan membuat maju peradaban apabila diterapkan secara
benar dan sempurna, akan menghancurkan peradaban jika ditinggalkan begitu saja.
Islam
mengatur semua sisi kehidupan, islam memberikan kewajiban dakwah kepada setiap
pemeluknya. Islam mengajarkan bahwa setiap kita adalah da'i, sebelum menjadi
apapun. Kita adalah dokter yang juga dai dan dai yang memiliki keahlian dalam
kedokteran. Kita adalah ekonom yang mengamalkan nilai islam dan penyiar islam
yang ahli dalam ekonomi. kita adalah politikus yang memiliki kebijakan bernilai
islam dan kita juga adalah seorang muslim yang juga ahli dalam perpolitikan.
Siapapun kita, apapun kita, dimanapun kita, islam selalu menjadi dasar
kehidupan kita dan tujuan kita.
Pernyataan
ketiga yang mengatakan bahwa semua agama sama, sama-sama
mengajarkan kebaikan, Tuhannya sama hanya cara menujunya saja yang berbeda, ini
adalah ayat sakti dari para penyiar aliran pluralisme. Benarkah
demikian?
Betul
namanya "Tuhan", tapi esensi tuhan dari tiap agama itu berbeda.
Pernyataan tersebut sama saja menyatakan semua mobil sama, sama sama kendaraan
beroda empat. Tapi esensi tiap mobil kan berbeda, ada bus, ada mini bus, ada
carry, ada mobil sport, ada mobil merci. Apakah mau disamakan mobil sport
dengan mobil carry? Tentu tidak mungkin kan?
Begitupun
dengan "Tuhan", bagaimana bisa menyamakan antara tuhan Islam yang
satu, kemudian disamakan dengan Tuhan nasrani yang Tiga tapi satu? Bagaimana
mungkin disamakan Tuhan Islam yang memiliki nama Allah dan nama mulia lainnya
disamakan dengan Tuhan yahudi yang orang yahudi sendiri bingung akan nama
Tuhannya? (Skrip nama tuhan yahudi dalam bahas ibrani hanya terdiri dari 4
konsonan huruf "YHWH" tanpa huruf vokal. mereka dilarang menyebut
secara sembarangan nama Tuhan mereka, sehingga nama Tuhan mereka sampai
sekarang adalah misteri yang belum terpecahkan). Apakah sama Allah dengan Tuhan
hindu dan budha yang banyak, yang dilahirkan, dan berjenis kelamin? Tentu tidak
bukan? Kemudian mereka yang mengatakan semua agama baik, memangnya sudah berapa
agama yang sudah dipelajarinya sehingga menyimpulkan semua agama baik?
Sedangkan jumlah agama ribuan bahkan jutaan yang tersebar di seluruh dunia???
Bagaimana
dengan agama yang menjadikan manusa sebagai tumbal kepada Tuhannya? Apakah ini
baik? Bagaimana agama syiah yang menganiaya dirinya sendiri dan anak anaknya
yang tak berdosa dalam hari perayaannya? Apakah ini baik? Dan masih banyak lagi
contoh yang lainnya.
Yang
terakhir, adalah pernyataan yang sering didengung -
dengungkan oleh mereka yang labil dari kaum relativisme. Mereka
mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, tidak ada yang mutlak, apa yang menurut
kita benar belum tentu benar menurut orang lain, atau sebaliknya. Sebab itu,
jangan paksakan orang lain untuk menerima apa yang diyakini itu benar, karena
boleh jadi itu salah.
Begitulah
ucapan manis yang terasa indah didengar, sehingga tak jarang kita temui
beberapa artis di televisi terpedaya dan ikut mensyiarkan pemikiran ini, dengan
mengatakkan "Ya kita gak bisa mengatakkan ini salah itu benar, karena
boleh jadi menurutnya benar, ya kita hargai saja", begitu kata kebanyakan
mereka ketika mengomentari tentang perzinahan, pornografi, pelaku narkoba dan
berbagai kemaksiatan yang jelas-jelas suatu keburukan.
Ekstrimnya
lagi para relativian ini mengatakan, " Boleh jadi perzinahan, homo seksual
dan transgender yang sekarang dianggap buruk dan aib, namun beberapa tahun
kemudian sah dan diperbolehkan, karena kebenaran dan kebaikan itu kan konsensus
dan relatif, jadi kalau nanti semua orang setuju, maka itu akan lumrah dan
biasa saja". Menyeramkan...
Dalam
sebuah kesempatan ceramah, Ust Adian
Husaini menanggapi ucapan mereka seperti
ini, "Jika kebenaran itu relatif, maka apa yang dikatakan oleh kaum
relativisme juga relatif, jadi pendapat mereka juga gak mutlak dong, jadi
jangan paksakan kepada orang lainnya...", "Jika kebenaran relatif,
dan boleh jadi salah, maka tadinya saya berfikir kamu itu cerdas, pintar, dan
waras, tapi karena kamu bilang kebenaran itu relatif dan bisa salah, boleh jadi
juga berarti fikiran saya yang bilang kamu cerdas, pintar dan waras jg relatif
dan bisa salah dong ya? Berarti kamu bodoh, idiot dan gila? Begitu ya?"
Ceritanya sambil tertawa kecil.
Kebenaran
itu mutlak, dan setiap kehidupan memiliki aturan yang mengikat. Jangankan hidup
berdampingan dengan manusia yang berakal, hidup di hutan rimba saja kita harus
mengakui keberadaan hukum alam rimba, apakah anda masih bersikukuh bahwa
hewan-hewan di hutan rimba itu baik dan bersahabat? Kemudian tidur bersama dan
makan bersama dengan mereka? Jika iya, maka anda sudah gila.
Apalagi
dalam beragama, khususnya Islam, terdapat kebenaran mutlaq di dalamnya. Aturan
aturan yang mengikat di dalamnya. Syarat dan ketentuan dalam menjalankannya.
Tidak bisa ketika kita menjadi seorng muslim, kita mengatakan islam belum tentu
benar, boleh jadi agama lain lebih benar.
Ketika
mengatakan sebagai muslim, maka kita harus yakini, bahwa agama islam adalah
agama satu-satunya yang benar, yang dapat menghantarkan kita kepada kebahagian
hakiki dunia dan akhirat, kita meyakini bahwa islam adalah agama yang sempurna,
dengan segala aturan-aturannya, islam adalah agama yang ilmiah, dengan segala
fakta-fakta ilmiah tersebar di dunia. Yakin bahwa Allah adalah satu satunya
Ilah yang berhak disembah, muhammad rasulullah, Alquran kalamullah dan pedoman
kehidupan, dan hal hal lainnya yang mengikat kita sebagai seorang muslim. Tak
ada sedikitpun keraguan akan kebenaran yang ada di dalamnya. Begitulah
seharusnya sikap seorang muslim sejati, tidak galau dan labil yang mana yang
baik dan buruk, yang mana yang benar dan salah. Karena semua sudah diatur
dengan jelas di dalam Alquran, Hadits rasul, dan ijma' para 'ulama.
Semoga
kita dapat Menjaga diri kita, keluarga dan saudara-saudara kita dari satanic
worldview yang menyesatkan dan membuat kita paham tentang bagaimana islamic woldview
mengatur kehidupan kita..aamiin...
Wallahu
a'lam
Oleh
: Ade zuniarsa putra | @dhezun | Markaz Inspirasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar