Selasa, 18 April 2017

Nih jawaban pertanyaan sebelumnya

Assalamu’alaykum, heyyhooo ketemu lagi yeahh

Sudah dijawabkan pertanyaan-petanyaan yang tadi? Udah dicatet kan? Hah, belum? CUPS! Hehe canda 😝

Kalo belum, nih jawab dulu pertanyaan di sini

Oke balik lagi, tulisan ini adalah tulisan dari guru saya, orang hebat yang super zuper mega ultra kece badai puting beliung tornado biang lala kora-kora roller coaster istana boneka. Hehe hehe piss canda bang 😃

Mau tau salah satu kehebatannya sepeti apa?

“BELIAU, KALO NGANGKAT GALON KE DISPENSER, AIRNYA KAGAK TUMPAH”

Keren kan? /iyalah, kan kagak ada airnya
Wkwk maaf bercanda bang 😝v.

Tapi jujur, beliau ini bener-bener orang hebat, salah satu oang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan saya, InsyaAllah jika ada kesempatan, saya akan bercerita tentang beliau 😊

Oke balik lagi, mulai fokus. 
Tulisan ini saya repost melihat keadaan saat ini sugguh sangat membingungkan, terlebih saat akhir-akhir ini sulit membedakan mana yang haq, dan mana yang bathil. Yuk ah nyimeng *eh /kachauu. Yuk ah nyimak 😊.



Oleh: Dhezun

Jadi, pertanyaan sebelumnya adalah pertanyaan sekaligus pernyataan yang sering dilontarkan oleh mereka penggiat liberalisme, sekulerisme, pluralisme dan relativisme.

Seperti iblis yang datang kepada Hawa dan Adam, ia datang dengan ucapan manis sehingga adam dan hawa tertipu dengan tipu dayanya, begitulah strategi iblis dalam mensesatkan manusia, yang terus diwariskan untuk menyesatkan manusia.


Jika kita jeli, pernyataan pertama adalah jebakan dari mereka penganut liberalisme. Indah sekali, kampanye untuk memberikan hak yang sama untuk tampil di depan publik, tanpa pandang agama, ras, budaya, gender, pendidikan dan lainnya, terlihat adil dan bijaksana, bukan? Jika memang anda setuju, selamat anda masuk ke dalam jebakan mereka. Bagaimana mungkin kita memberikan kesempatan hak bicara yang sama untuk para pendeta, biksu, rahib untuk memberikan ceramah pada khotbah jumat? Untuk mengisi majelis ta'lim? Atau menjadi guru di pesantren-pesantren? Bagaimana mungkin kita memberikan kesempatan anak TK untuk memberikan mata kuliah kepada para calon doktor? Bagaimana mungkin??? Jika mungkin, hancurlah peradaban ini...


Pernyataan kedua adalah jebakan dari kaum sekulerisme. Mereka mencoba memisahkan urusan agama dengan urusan dunia. Agama tempatnya di masjid, di gereja, di wihara, di sinagog, jangan masuk ke urusan politik, ekonomi dan lain sebagainya. Agama urusan pribadi, jangan libatkan dalam aktifitas sosial. Begitu kata mereka... Tapi islam tidak begitu, islam adalah agama yang besar, agama yang sempurna, agama yang mengatur dari hal kecil sampai hal yang besar. Mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Mulai dari urusan makan sampai urusan kenegaraan.

Agama lain bangkit karena meninggalkan agama mereka, sedangkan islam mundur karena meninggalkan agama mereka. Agama lain bangkit karena meninggalkan agama mereka, karena ajaran ajaran mereka banyak yang bertentangan dengan fakta fakta ilmiah kehidupan, sehingga bila terus diikuti doktrin tersebut hanya akan menyesatkan dan memundurkan manusia. Sedangkan islam selalu sejalan dengan fakta-fakta ilmiah kehidupan, sehingga akan membuat maju peradaban apabila diterapkan secara benar dan sempurna, akan menghancurkan peradaban jika ditinggalkan begitu saja.

Islam mengatur semua sisi kehidupan, islam memberikan kewajiban dakwah kepada setiap pemeluknya. Islam mengajarkan bahwa setiap kita adalah da'i, sebelum menjadi apapun. Kita adalah dokter yang juga dai dan dai yang memiliki keahlian dalam kedokteran. Kita adalah ekonom yang mengamalkan nilai islam dan penyiar islam yang ahli dalam ekonomi. kita adalah politikus yang memiliki kebijakan bernilai islam dan kita juga adalah seorang muslim yang juga ahli dalam perpolitikan. Siapapun kita, apapun kita, dimanapun kita, islam selalu menjadi dasar kehidupan kita dan tujuan kita.


Pernyataan ketiga yang mengatakan bahwa semua agama sama, sama-sama mengajarkan kebaikan, Tuhannya sama hanya cara menujunya saja yang berbeda, ini adalah ayat sakti dari para penyiar aliran pluralisme. Benarkah demikian?
Betul namanya "Tuhan", tapi esensi tuhan dari tiap agama itu berbeda. Pernyataan tersebut sama saja menyatakan semua mobil sama, sama sama kendaraan beroda empat. Tapi esensi tiap mobil kan berbeda, ada bus, ada mini bus, ada carry, ada mobil sport, ada mobil merci. Apakah mau disamakan mobil sport dengan mobil carry? Tentu tidak mungkin kan?

Begitupun dengan "Tuhan", bagaimana bisa menyamakan antara tuhan Islam yang satu, kemudian disamakan dengan Tuhan nasrani yang Tiga tapi satu? Bagaimana mungkin disamakan Tuhan Islam yang memiliki nama Allah dan nama mulia lainnya disamakan dengan Tuhan yahudi yang orang yahudi sendiri bingung akan nama Tuhannya? (Skrip nama tuhan yahudi dalam bahas ibrani hanya terdiri dari 4 konsonan huruf "YHWH" tanpa huruf vokal. mereka dilarang menyebut secara sembarangan nama Tuhan mereka, sehingga nama Tuhan mereka sampai sekarang adalah misteri yang belum terpecahkan). Apakah sama Allah dengan Tuhan hindu dan budha yang banyak, yang dilahirkan, dan berjenis kelamin? Tentu tidak bukan? Kemudian mereka yang mengatakan semua agama baik, memangnya sudah berapa agama yang sudah dipelajarinya sehingga menyimpulkan semua agama baik? Sedangkan jumlah agama ribuan bahkan jutaan yang tersebar di seluruh dunia???

Bagaimana dengan agama yang menjadikan manusa sebagai tumbal kepada Tuhannya? Apakah ini baik? Bagaimana agama syiah yang menganiaya dirinya sendiri dan anak anaknya yang tak berdosa dalam hari perayaannya? Apakah ini baik? Dan masih banyak lagi contoh yang lainnya.


Yang terakhir, adalah pernyataan yang sering didengung - dengungkan oleh mereka yang labil dari kaum relativisme. Mereka mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, tidak ada yang mutlak, apa yang menurut kita benar belum tentu benar menurut orang lain, atau sebaliknya. Sebab itu, jangan paksakan orang lain untuk menerima apa yang diyakini itu benar, karena boleh jadi itu salah.

Begitulah ucapan manis yang terasa indah didengar, sehingga tak jarang kita temui beberapa artis di televisi terpedaya dan ikut mensyiarkan pemikiran ini, dengan mengatakkan "Ya kita gak bisa mengatakkan ini salah itu benar, karena boleh jadi menurutnya benar, ya kita hargai saja", begitu kata kebanyakan mereka ketika mengomentari tentang perzinahan, pornografi, pelaku narkoba dan berbagai kemaksiatan yang jelas-jelas suatu keburukan.

Ekstrimnya lagi para relativian ini mengatakan, " Boleh jadi perzinahan, homo seksual dan transgender yang sekarang dianggap buruk dan aib, namun beberapa tahun kemudian sah dan diperbolehkan, karena kebenaran dan kebaikan itu kan konsensus dan relatif, jadi kalau nanti semua orang setuju, maka itu akan lumrah dan biasa saja". Menyeramkan...

Dalam sebuah kesempatan ceramah, Ust Adian Husaini menanggapi ucapan mereka seperti ini, "Jika kebenaran itu relatif, maka apa yang dikatakan oleh kaum relativisme juga relatif, jadi pendapat mereka juga gak mutlak dong, jadi jangan paksakan kepada orang lainnya...", "Jika kebenaran relatif, dan boleh jadi salah, maka tadinya saya berfikir kamu itu cerdas, pintar, dan waras, tapi karena kamu bilang kebenaran itu relatif dan bisa salah, boleh jadi juga berarti fikiran saya yang bilang kamu cerdas, pintar dan waras jg relatif dan bisa salah dong ya? Berarti kamu bodoh, idiot dan gila? Begitu ya?" Ceritanya sambil tertawa kecil.

Kebenaran itu mutlak, dan setiap kehidupan memiliki aturan yang mengikat. Jangankan hidup berdampingan dengan manusia yang berakal, hidup di hutan rimba saja kita harus mengakui keberadaan hukum alam rimba, apakah anda masih bersikukuh bahwa hewan-hewan di hutan rimba itu baik dan bersahabat? Kemudian tidur bersama dan makan bersama dengan mereka? Jika iya, maka anda sudah gila.

Apalagi dalam beragama, khususnya Islam, terdapat kebenaran mutlaq di dalamnya. Aturan aturan yang mengikat di dalamnya. Syarat dan ketentuan dalam menjalankannya. Tidak bisa ketika kita menjadi seorng muslim, kita mengatakan islam belum tentu benar, boleh jadi agama lain lebih benar.

Ketika mengatakan sebagai muslim, maka kita harus yakini, bahwa agama islam adalah agama satu-satunya yang benar, yang dapat menghantarkan kita kepada kebahagian hakiki dunia dan akhirat, kita meyakini bahwa islam adalah agama yang sempurna, dengan segala aturan-aturannya, islam adalah agama yang ilmiah, dengan segala fakta-fakta ilmiah tersebar di dunia. Yakin bahwa Allah adalah satu satunya Ilah yang berhak disembah, muhammad rasulullah, Alquran kalamullah dan pedoman kehidupan, dan hal hal lainnya yang mengikat kita sebagai seorang muslim. Tak ada sedikitpun keraguan akan kebenaran yang ada di dalamnya. Begitulah seharusnya sikap seorang muslim sejati, tidak galau dan labil yang mana yang baik dan buruk, yang mana yang benar dan salah. Karena semua sudah diatur dengan jelas di dalam Alquran, Hadits rasul, dan ijma' para 'ulama.

Semoga kita dapat Menjaga diri kita, keluarga dan saudara-saudara kita dari satanic worldview yang menyesatkan dan membuat kita paham tentang bagaimana islamic woldview mengatur kehidupan kita..aamiin...

Wallahu a'lam


Oleh : Ade zuniarsa putra | @dhezun | Markaz Inspirasi

Nih pertanyaan buat kamu yang ngerasa jago

Assalamu’alaykum

Longtime no seeyeahhhhh

/padahal baru beberapa hari lalu ngepost
/ohya baru inget, bener deng longtime no see, kan ini cuma tulisan. . .

/////apasih-_-

Ohya gaiz, pada ada tulisan saya sebelumnya, saya sempat menuliskan hal yang berbunyi:

Kaum materialis ini mereka yakin bahwa hidupnya hanyalah di dunia ini saja. Mereka tidak mempercayai kehidupan setelah kehidupan ini, di saat manusia dihisab mengenai apa saja yang telah diusahakannya, maka dunia akan menjadi obsesi terbesarnya, puncak pengetahuannya. Ia hidup untuk dunia, menjulurkan lidah kepadanya, tenggalam dalam kesenangannya tanpa memperdulihan hisab *hmm jadi inget suatu paham yah, hehe 😝.

Tau gak tulisan saya sebelumnya yang mana? Kagak tau? CUPS bener lau!!!! /pisss canda sob 😃v. Kalo mau tau, yang ini nehhh

Lalu pertanyaannya, “PAHAM” apakah yang dimaksud itu??? /sengaja dicapslock, dibold, dimiringin, dimerahin, dichillerin dan dikasih tanda kutip biar makin serem 😝


Sebelum saya menjawabnya, saya ada pertanyaan lagi nih buat temen-temen, tapi jawab dengan sejujur-jujurnya yaaaap 😃


Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan "Setuju", "Tidak Setuju", "Ragu-Ragu":

1. Setiap orang memiliki kesempatan hak berbicara di tempat publik yang sama, tidak memandang ras, suku, budaya, agama, gender, pendidikan dan lainnya

2. Sebaiknya urusan dipegang oleh ahlinya, politik serahkan kepada seorang politikus, agama serahkan kepada ulama, budaya serahkan kepada budayawan, ekonomi serahkan kepada pebisnis dan ekonom, jangan sampai politikus berbicara tentang budaya, budayawan bicara ttg agama, agar tidak merusak tatanan peradaban.

3. Semua agama mengajarkan kebaikan, tujuannya pun sama, ibarat ingin pergi ke kampus, tapi cara menuju tujuannya yang berbeda, ada yg naik sepeda motor, bus, busway, bajaj, dan lain lainnya.

4. Tidak sepatutnya kita mengaku diri paling benar kemudian menyalahkan orang lain, karena apa yang menurut kita benar/salah belum tentu menurut orang lain benar/salah, apa yang menurut kita baik/buruk jg belum tentu menurut orang lain salah baik/buruk. Begitu jg dalam beragama, setiap agama memiliki sudut pandangnya masing2. Sebab itu jangan sampai kita sebagai seorng muslim menganggap paling benar sedangkan agama lain itu salah semua.

Jawab dengan jujur yapp, jangan lupa dicatet bia gak lupa.



Kalo udah, silahkan cari tau jawaban kamu di sini 😃

Jumat, 14 April 2017

Jadi Aktivis Dakwah? Ngapain Coba ....


Assalamu’alaykum

          Hai, long time no seeyeeahhh.
Setelah beberapa tahun tidak mengurusi blog ini, alhamdulillah dengan sedikit terpaksa, saya harus mengaktifkan kembali blog ini. Terimakasih Bang Dans 😃v *hehe canda bang :v


Bismillahirrohmanirrohim

          Alhamdulillah, saat ini saya sedang aktif di beberapa organisasi, dan insyaAllah beberapa diantara adalah berorintasi pada dakwah islam (insyaAllah). Pada tulisan kali ini, saya akan sedikit menyampaikan isi hati saya, yang mungkin beberapa diantara kita suka bertanya-tanya. Bertanya tentang apa itu? Bertanya tentang pertanyaan saya (?) /plakkk. 
Mungkin sedikit agak sedikit serius pertanyaannya, yaitu kenapa sih kita harus menjadi aktivis dakwah?

Wah berat bener yah?

Sebelumnya, saya ingin meminta maaf jika tulisan ini sangat banyak memiliki kekurangan dikarenakan minimnya ilmu yang masih saya miliki dan sedikitnya sumber yang saya gunakan, dan sebagian besar isinya adalah pemikiran saya yang mungkin tanpa refesensi, jadi......hontou ni sumimasen!

“Mengapa kita memilih menjadi aktivis dakwah?”

Apa yang ada di pikiran anda saat ditanya seperti itu oleh orang lain, seperti teman anda, saudara atau keluarga anda, atau murobbi anda, lalu murobbi anda menyuruh anda membuat tulisan *eh

Jika saya mengingat kebelakang empat tahun yang lalu, bisa dikatakan saat itu saya masih berada pada masa jahiliyah. Saat itu saya baru masuk SMA dan lebih mengenal rohis. Pada saat pula saya mulai mengenal mentoring.

Dakwah melalui keteladanan. Itulah yang sempat saya dapatkan dari kakak rohis. Jadi kisahnya, ada seorang kakak kelas XII, seorang ketua MPK (kalau dikampus seperti BPM/MTM), beliau sholeh bener, terlihat dari sikapnya walaupun saat itu saya belum mengenal beliau. Lalu pada suatu hari, beliau menghampiri saya, menyalami saya, dan berkenalan dengan saya. MasyaAllah, santun bener kakak kelas satu ini, dan kerennya, hari-hari berikutnya bila bertemu beliau, beliau menyalami saya kembali sambil menyebut nama saya. Padahal saat itu beliau yang sudah kelas XII sedangkan saya siswa baru kelas X. Di sinilah saya melihat, betapa kerennya output dari “anak rohis”. Saya pun bertekad untuk meneladani beliau, dan alhamdulillah sudah menjadi kebiasaan bagi saya.

Singkat cerita, saya mulailah semakin dekat dengan Rohis SMA saya, dan efeknya semakin dekat pula dengan Allah. Terlebih lagi saat sempat mengikuti kegiatan Tafakur Alam dan agenda-agenda rohis lainnya. Di sini saya semakin tertarik dengan rohis. Selain itu juga, saya pun mendapatkan kelompok mentoring. Alhamdulillah, saya waktu itu mendapatkan murobbi yang super kece, gokil abis, dan wawasannya luas betul. Membuat saya semakin tertarik dengan rohis dan mentoring. Yang gak kalah keren, saya sekarang satu universitas dengan beliau namun berbeda fakultas, beliau anak FIS angkatan 2012. Kalau mau tau beliau yang mana? Saat  menjadi calon ketua LDK Salim, beliau orasinya yang paling kece di depan Gedung G. Hehe pasti tau siapa kan 😝

Saya pun mengenal islam lebih dalam dan lebih baik, itu semua berkat kakak-kakak rohis dan murobbi saya. Dan saya memiliki keyakinan, saya harus berbagi kelezatan ini, kepada teman-teman yang lain, dan siswa baru nanti. Di sinilah, awal dimana saya terjun dan memilih untuk menjadi seorang aktivis dakwah. Dari pernyataan saya diatas, mengapa saya milih jalan ini, ini adalah bentuk terimakasih saya kepada kakak-kakak saya yang sudah mengenalkan saya kepada keindahan islam dan kelezatan iman.

Setelah dipelajari lebih lanjut, ternyata jalan ini adalah jalan terbaik yang harus kita tempuh. Jika kita mengingat ayat terakhir surat Al-‘Ashr, kita diberi pilihan untuk menjadi orang yang tidak merugi, dengan cara beriman dan saling mengingati dalam kebenaran dan kesabaran. Bisa dikatakan itu adalah dakwah, sehingga orang melakukannya bisa dikatan sebagai aktivis dakwah. Pendeknya surat Al-‘Ashr ini bukan berarti memiliki maknya sedikit, justru sangat banyak yang bisa kita ambil. Bagaimana tidak, jika kita perhatikan, sebenarnya surat Al-‘Ashr ini sudah menjawab, apa sih yang harus kita lakukan di dunia ini agar kita tidak masuk ke golongan orang yang merugi (masuk ke neraka)? Ya jelas, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, yaitu beriman dan berdakwah.

Melihat keadaan saat ini, sebenernya saya sedikit miris melihat apa yang dilakukan kebanyakan golongan anak muda sekarang. Padahal nantinya kita akan dipertanyakan, “untuk apa kita habiskan masa muda kita?”.

Dalam buku Komitmen Muslim Sejati karangan Fathi Yakan, beliau menyebutkan ada tiga golongan manusia dalam menjalani hidup ini.

Pertama, golongan yang hidup untuk dunia.
          Mereka ini adalah kaum materialis -yang berpaham materi baik dalam keyakinan maupun kenyataan. Al-Quran menyebut mereka sebagai golongan dahriyin, yang pada Al-Quran disebutkan pada surat Al-An’am ayat 29 (temen-temen bisa buka sendiri yah, biar gak cuma jadi pajangan mushafnya 😝) *sebenernya sih saya aja yang males nulisnya *eh /plakkk

Kaum materialis ini mereka yakin bahwa hidupnya hanyalah di dunia ini saja. Mereka tidak mempercayai kehidupan setelah kehidupan ini, di saat manusia dihisab mengenai apa saja yang telah diusahakannya, maka dunia akan menjadi obsesi terbesarnya, puncak pengetahuannya. Ia hidup untuk dunia, menjulurkan lidah kepadanya, tenggalam dalam kesenangannya tanpa memperdulihan hisab *hmm jadi inget suatu paham yah, hehe 😝.

Kedua, golongan yang tercampakkan di antara dunia dan akhirat
   Orang-orang ini pada hakikatnya berfaham materialis, namun secara lahir mereka melaksanakan ritual-ritual ibadah. Mereka-mereka itu kebanyakan adalah orang yang goyah keyakinannya, tersesat tindakan-tindakan mereka dalam kehidupan ini, akan tetapi mereka menyangka telah berbuat kebaikan. Sekalipun mereka adalah orang-orang percaya kepada Allah dan hari akhir, tetapi keyakinan mereka ini sekadar formalitas yang terpisah secara total dari keadaan nyata mereka.

Ketiga, golongan yang menganggap dunia sebagai lahan bagi kehidupan akhirat
         Ini adalah orang-orang mukmin sejati. Orang-orang yang menyadari hakikat kehidupan ini, sebagaimana mereka mengetahui nilai dunia dibandingkan dengan akhirat. Mereka tidak dilalaikan atau disibukkan oleh dunia dalam merealisasikan tujuan mereka diciptakan. Mereka yang benar pengakuannya sebagai muslim, menganggap dunia ini adalah area untuk berkompetisi dalam menaati Allah swt. dan mencapai ridho-Nya, semua hal yang ia miliki, sejatinya adalah milik Allah swt. dan ia pun menggunakannya untuk menolong agama Allah swt. Sangat berbeda dengan kaum materialin yang menggunakan apa yang ia punyai untuk memuaskan nafsu dan syahwatnya semata.

Diantara ketiga golongan tersebut kita mau masuk ke golongan ke berapa? Saya tau temen-temen pasti maunya menjadi golongan yang ke-tiga kan??? Yoms, tiga tiga tiga~ jadi paham kan, nanti tanggal 19 April harus pilih nomor berapa? *eh wkwk

Nah balik lagi, karena kita tau kita harus memilih nomor tiga agar maju kotanya bahagia warganya. . . . . . . /plakkk

/undo/

Nah balik lagi, karena kita harus berapa di golongan yang ke-tiga, dan semoga kita berada pada golongan tersebut. Yang ingin saya tanya, apakah keluarga kita semuanya berada digolongan tersebut? Bagaimana sahabat kita? Teman-teman kita? Tetangga kita? Apa mereka ada di golongan ke-tiga? Bagaimana jika tidak?

Inilah tugas kita sebagai orang yang memilih menjadi seorang aktivis dakwah, kita musti mengajak orang-orang terdekat kita dan orang lain, agar memahami islam lebih kaffah lagi, sehingga kita semua bisa menjadikan islam sebagai pedoman hidup. Kan pasti seru tuh, kalau kita berada si Surga bisa bersama orang-orang terdekat kita (aamiin), nah maka dari itu, kita musti mengajak aga bisa sholeh rame-rame, kagak sendirian, biar kalo berdakwah nanti bisa rame-rame juga, kagak sendirian, biar dapet pahala amal jama’i juga gitu lhooo 😝. Ohya satu lagi, Surga itu terlalu luas kalo buat sendirian lho, jadi seruan rame-rame kan? hewehew

Kita mengajak bukan berarti kita sudah paling bener dan sholeh? Tapi yang perlu ditekankan disini, kita sama-sama belajar, dan memperbaiki diri agar bisa menjadi muslim yang baik, yang islam akidahnya, islam ibadahnya, islami akhlaknya, agar kita menjadi muslim sejati (dalam buku Komitmen Muslim Sejati). Setelah menjadi muslim sejati, kita musti berdakwah untuk berusaha mengislamikan keluarga kita. Setelah itu, kita berdakwah lagi untuk menciptakan masyarakat islami. Lebih jauh lagi kita harus mengislamkan negara ini, bahkan sampai kita dapat menciptakan kekhalifahan islam yang menguasai dunia ini.

Kalau dilihat-lihat, tulisan hampir lima lembar kertas letter ini yang di kerengin (-red Bold) cuma ada empat point hehe (-_-)v. Walaupun tulisan ini biasa banget atau malah aneh, saya memohon maaf sebesar-besarnya yeahhhhhhh 😉

Mungkin sekian tulisan saya pada kali ini, sekali lagi saya mohon maaf kalau terlalu banyak kekurangan dalam tulisan saya ini (Hontou ni gomenasai!!!)

Sedikit dari saya sebelum saya akhiri,

Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah rahimahullah menasehatkan kepada teman – temannya, “Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah”. Ucapkan : “Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau. Masukkanlah bersama kami di Surga-Mu”.

Pun temen-temen jika tidak menemukan sayasi Surga nanti, mohon tanyakan saya pada Allah yah :"), semoga bisa bersama-sama bersua di SurgaNya. Aamiin

Wassalamu’alaykum