Assalamu’alaykum
Hai, long
time no seeyeeahhh.
Setelah beberapa tahun tidak mengurusi blog ini,
alhamdulillah dengan sedikit terpaksa, saya harus mengaktifkan kembali blog
ini. Terimakasih Bang Dans 😃v *hehe canda bang :v
Bismillahirrohmanirrohim
Alhamdulillah,
saat ini saya sedang aktif di beberapa organisasi, dan insyaAllah beberapa
diantara adalah berorintasi pada dakwah islam (insyaAllah). Pada tulisan kali
ini, saya akan sedikit menyampaikan isi hati saya, yang mungkin beberapa
diantara kita suka bertanya-tanya. Bertanya tentang apa itu? Bertanya tentang
pertanyaan saya (?) /plakkk.
Mungkin sedikit agak sedikit serius pertanyaannya, yaitu kenapa sih kita harus menjadi aktivis dakwah?
Mungkin sedikit agak sedikit serius pertanyaannya, yaitu kenapa sih kita harus menjadi aktivis dakwah?
Wah berat bener yah?
Sebelumnya, saya ingin meminta maaf jika tulisan ini
sangat banyak memiliki kekurangan dikarenakan minimnya ilmu yang masih saya miliki
dan sedikitnya sumber yang saya gunakan, dan sebagian besar isinya adalah
pemikiran saya yang mungkin tanpa refesensi, jadi......hontou ni sumimasen!
“Mengapa kita memilih menjadi aktivis dakwah?”
Apa yang ada di pikiran anda saat ditanya seperti itu oleh
orang lain, seperti teman anda, saudara atau keluarga anda, atau murobbi anda, lalu murobbi anda menyuruh anda membuat tulisan *eh
Jika saya mengingat kebelakang empat tahun yang lalu,
bisa dikatakan saat itu saya masih berada pada masa jahiliyah. Saat itu saya
baru masuk SMA dan lebih mengenal rohis. Pada saat pula saya mulai
mengenal mentoring.
Dakwah melalui keteladanan. Itulah yang sempat saya
dapatkan dari kakak rohis. Jadi kisahnya, ada seorang kakak kelas XII, seorang
ketua MPK (kalau dikampus seperti BPM/MTM), beliau sholeh bener, terlihat dari
sikapnya walaupun saat itu saya belum mengenal beliau. Lalu pada suatu hari,
beliau menghampiri saya, menyalami saya, dan berkenalan dengan saya.
MasyaAllah, santun bener kakak kelas satu ini, dan kerennya, hari-hari
berikutnya bila bertemu beliau, beliau menyalami saya kembali sambil menyebut
nama saya. Padahal saat itu beliau yang sudah kelas XII sedangkan saya siswa
baru kelas X. Di sinilah saya melihat, betapa kerennya output dari “anak
rohis”. Saya pun bertekad untuk meneladani beliau, dan alhamdulillah sudah menjadi kebiasaan bagi saya.
Singkat cerita, saya mulailah semakin dekat dengan Rohis
SMA saya, dan efeknya semakin dekat pula dengan Allah. Terlebih lagi saat sempat
mengikuti kegiatan Tafakur Alam dan agenda-agenda rohis lainnya. Di sini saya
semakin tertarik dengan rohis. Selain itu juga, saya pun mendapatkan kelompok
mentoring. Alhamdulillah, saya waktu itu mendapatkan murobbi yang super kece,
gokil abis, dan wawasannya luas betul. Membuat saya semakin tertarik dengan
rohis dan mentoring. Yang gak kalah keren, saya sekarang satu universitas
dengan beliau namun berbeda fakultas, beliau anak FIS angkatan 2012. Kalau mau
tau beliau yang mana? Saat menjadi calon
ketua LDK Salim, beliau orasinya yang paling kece di depan Gedung G. Hehe pasti
tau siapa kan 😝
Saya pun mengenal islam lebih dalam dan lebih baik, itu
semua berkat kakak-kakak rohis dan murobbi saya. Dan saya memiliki keyakinan,
saya harus berbagi kelezatan ini, kepada teman-teman yang lain, dan siswa baru
nanti. Di sinilah, awal dimana saya terjun dan memilih untuk menjadi seorang
aktivis dakwah. Dari pernyataan saya diatas, mengapa saya milih jalan ini, ini
adalah bentuk terimakasih saya kepada kakak-kakak saya yang sudah
mengenalkan saya kepada keindahan islam dan kelezatan iman.
Setelah dipelajari lebih lanjut, ternyata jalan ini
adalah jalan terbaik yang harus kita tempuh. Jika kita mengingat ayat terakhir surat
Al-‘Ashr, kita diberi pilihan untuk menjadi orang yang tidak merugi, dengan
cara beriman dan saling mengingati dalam kebenaran dan kesabaran. Bisa dikatakan
itu adalah dakwah, sehingga orang melakukannya bisa dikatan sebagai aktivis
dakwah. Pendeknya surat Al-‘Ashr ini bukan berarti memiliki maknya sedikit, justru sangat
banyak yang bisa kita ambil. Bagaimana tidak, jika kita perhatikan,
sebenarnya surat Al-‘Ashr ini sudah menjawab, apa sih yang harus kita lakukan di
dunia ini agar kita tidak masuk ke golongan orang yang merugi (masuk ke
neraka)? Ya jelas, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, yaitu beriman dan
berdakwah.
Melihat keadaan saat ini, sebenernya saya sedikit miris
melihat apa yang dilakukan kebanyakan golongan anak muda sekarang. Padahal nantinya
kita akan dipertanyakan, “untuk apa kita habiskan masa muda kita?”.
Dalam buku Komitmen Muslim Sejati karangan Fathi
Yakan, beliau menyebutkan ada tiga golongan manusia dalam menjalani hidup ini.
Pertama,
golongan yang hidup untuk dunia.
Mereka ini
adalah kaum materialis -yang berpaham materi baik dalam keyakinan maupun
kenyataan. Al-Quran menyebut mereka sebagai golongan dahriyin, yang pada Al-Quran
disebutkan pada surat Al-An’am ayat 29 (temen-temen bisa buka sendiri yah, biar
gak cuma jadi pajangan mushafnya 😝) *sebenernya sih saya aja yang males nulisnya *eh
/plakkk
Kaum materialis ini mereka yakin bahwa hidupnya hanyalah
di dunia ini saja. Mereka tidak mempercayai kehidupan setelah kehidupan ini, di
saat manusia dihisab mengenai apa saja yang telah diusahakannya, maka dunia
akan menjadi obsesi terbesarnya, puncak pengetahuannya. Ia hidup untuk dunia,
menjulurkan lidah kepadanya, tenggalam dalam kesenangannya tanpa memperdulihan
hisab *hmm jadi inget suatu paham yah, hehe 😝.
Kedua,
golongan yang tercampakkan di antara dunia dan akhirat
Orang-orang ini
pada hakikatnya berfaham materialis, namun secara lahir mereka melaksanakan
ritual-ritual ibadah. Mereka-mereka itu kebanyakan adalah orang yang goyah
keyakinannya, tersesat tindakan-tindakan mereka dalam kehidupan ini, akan
tetapi mereka menyangka telah berbuat kebaikan. Sekalipun mereka adalah
orang-orang percaya kepada Allah dan hari akhir, tetapi keyakinan mereka ini
sekadar formalitas yang terpisah secara total dari keadaan nyata mereka.
Ketiga, golongan yang menganggap dunia sebagai lahan bagi
kehidupan akhirat
Ini adalah orang-orang mukmin sejati. Orang-orang yang menyadari hakikat kehidupan ini, sebagaimana mereka mengetahui nilai dunia dibandingkan dengan akhirat. Mereka tidak dilalaikan atau disibukkan oleh dunia dalam merealisasikan tujuan mereka diciptakan. Mereka yang benar pengakuannya sebagai muslim, menganggap dunia ini adalah area untuk berkompetisi dalam menaati Allah swt. dan mencapai ridho-Nya, semua hal yang ia miliki, sejatinya adalah milik Allah swt. dan ia pun menggunakannya untuk menolong agama Allah swt. Sangat berbeda dengan kaum materialin yang menggunakan apa yang ia punyai untuk memuaskan nafsu dan syahwatnya semata.
Ini adalah orang-orang mukmin sejati. Orang-orang yang menyadari hakikat kehidupan ini, sebagaimana mereka mengetahui nilai dunia dibandingkan dengan akhirat. Mereka tidak dilalaikan atau disibukkan oleh dunia dalam merealisasikan tujuan mereka diciptakan. Mereka yang benar pengakuannya sebagai muslim, menganggap dunia ini adalah area untuk berkompetisi dalam menaati Allah swt. dan mencapai ridho-Nya, semua hal yang ia miliki, sejatinya adalah milik Allah swt. dan ia pun menggunakannya untuk menolong agama Allah swt. Sangat berbeda dengan kaum materialin yang menggunakan apa yang ia punyai untuk memuaskan nafsu dan syahwatnya semata.
Diantara ketiga golongan tersebut kita mau masuk ke
golongan ke berapa? Saya tau temen-temen pasti maunya menjadi golongan yang
ke-tiga kan??? Yoms, tiga tiga tiga~ jadi paham kan, nanti tanggal 19 April
harus pilih nomor berapa? *eh wkwk
Nah balik lagi, karena kita tau kita harus memilih nomor
tiga agar maju kotanya bahagia warganya. . . . . . . /plakkk
/undo/
Nah balik lagi, karena kita harus berapa di golongan yang
ke-tiga, dan semoga kita berada pada golongan tersebut. Yang ingin saya tanya,
apakah keluarga kita semuanya berada digolongan tersebut? Bagaimana sahabat
kita? Teman-teman kita? Tetangga kita? Apa mereka ada di golongan ke-tiga? Bagaimana
jika tidak?
Inilah tugas kita sebagai orang yang memilih menjadi
seorang aktivis dakwah, kita musti mengajak orang-orang terdekat kita dan orang
lain, agar memahami islam lebih kaffah lagi, sehingga kita semua bisa menjadikan
islam sebagai pedoman hidup. Kan pasti seru tuh, kalau kita berada si Surga bisa
bersama orang-orang terdekat kita (aamiin), nah maka dari itu, kita musti mengajak aga bisa sholeh rame-rame,
kagak sendirian, biar kalo berdakwah nanti bisa rame-rame juga, kagak sendirian, biar dapet
pahala amal jama’i juga gitu lhooo 😝. Ohya satu lagi, Surga itu terlalu luas kalo buat
sendirian lho, jadi seruan rame-rame kan? hewehew
Kita mengajak bukan berarti kita sudah paling bener dan
sholeh? Tapi yang perlu ditekankan disini, kita sama-sama belajar, dan
memperbaiki diri agar bisa menjadi muslim yang baik, yang islam akidahnya,
islam ibadahnya, islami akhlaknya, agar kita menjadi muslim sejati (dalam buku Komitmen
Muslim Sejati). Setelah menjadi muslim sejati, kita musti berdakwah untuk
berusaha mengislamikan keluarga kita. Setelah itu, kita
berdakwah lagi untuk menciptakan masyarakat islami. Lebih jauh lagi kita harus
mengislamkan negara ini, bahkan sampai kita dapat menciptakan kekhalifahan
islam yang menguasai dunia ini.
Kalau dilihat-lihat, tulisan hampir lima lembar kertas
letter ini yang di kerengin (-red Bold) cuma ada empat point hehe (-_-)v. Walaupun
tulisan ini biasa banget atau malah aneh, saya memohon maaf sebesar-besarnya
yeahhhhhhh 😉
Mungkin sekian tulisan saya pada kali ini, sekali lagi
saya mohon maaf kalau terlalu banyak kekurangan dalam tulisan saya ini (Hontou
ni gomenasai!!!)
Sedikit dari saya sebelum saya akhiri,
Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah rahimahullah menasehatkan kepada
teman – temannya, “Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah
tentang aku kepada Allah”. Ucapkan : “Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan,
dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau. Masukkanlah bersama
kami di Surga-Mu”.
Pun temen-temen jika tidak menemukan sayasi Surga nanti, mohon tanyakan saya pada Allah yah :"), semoga bisa bersama-sama bersua di SurgaNya. Aamiin
Wassalamu’alaykum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar