Jumat, 14 April 2017

Jadi Aktivis Dakwah? Ngapain Coba ....


Assalamu’alaykum

          Hai, long time no seeyeeahhh.
Setelah beberapa tahun tidak mengurusi blog ini, alhamdulillah dengan sedikit terpaksa, saya harus mengaktifkan kembali blog ini. Terimakasih Bang Dans 😃v *hehe canda bang :v


Bismillahirrohmanirrohim

          Alhamdulillah, saat ini saya sedang aktif di beberapa organisasi, dan insyaAllah beberapa diantara adalah berorintasi pada dakwah islam (insyaAllah). Pada tulisan kali ini, saya akan sedikit menyampaikan isi hati saya, yang mungkin beberapa diantara kita suka bertanya-tanya. Bertanya tentang apa itu? Bertanya tentang pertanyaan saya (?) /plakkk. 
Mungkin sedikit agak sedikit serius pertanyaannya, yaitu kenapa sih kita harus menjadi aktivis dakwah?

Wah berat bener yah?

Sebelumnya, saya ingin meminta maaf jika tulisan ini sangat banyak memiliki kekurangan dikarenakan minimnya ilmu yang masih saya miliki dan sedikitnya sumber yang saya gunakan, dan sebagian besar isinya adalah pemikiran saya yang mungkin tanpa refesensi, jadi......hontou ni sumimasen!

“Mengapa kita memilih menjadi aktivis dakwah?”

Apa yang ada di pikiran anda saat ditanya seperti itu oleh orang lain, seperti teman anda, saudara atau keluarga anda, atau murobbi anda, lalu murobbi anda menyuruh anda membuat tulisan *eh

Jika saya mengingat kebelakang empat tahun yang lalu, bisa dikatakan saat itu saya masih berada pada masa jahiliyah. Saat itu saya baru masuk SMA dan lebih mengenal rohis. Pada saat pula saya mulai mengenal mentoring.

Dakwah melalui keteladanan. Itulah yang sempat saya dapatkan dari kakak rohis. Jadi kisahnya, ada seorang kakak kelas XII, seorang ketua MPK (kalau dikampus seperti BPM/MTM), beliau sholeh bener, terlihat dari sikapnya walaupun saat itu saya belum mengenal beliau. Lalu pada suatu hari, beliau menghampiri saya, menyalami saya, dan berkenalan dengan saya. MasyaAllah, santun bener kakak kelas satu ini, dan kerennya, hari-hari berikutnya bila bertemu beliau, beliau menyalami saya kembali sambil menyebut nama saya. Padahal saat itu beliau yang sudah kelas XII sedangkan saya siswa baru kelas X. Di sinilah saya melihat, betapa kerennya output dari “anak rohis”. Saya pun bertekad untuk meneladani beliau, dan alhamdulillah sudah menjadi kebiasaan bagi saya.

Singkat cerita, saya mulailah semakin dekat dengan Rohis SMA saya, dan efeknya semakin dekat pula dengan Allah. Terlebih lagi saat sempat mengikuti kegiatan Tafakur Alam dan agenda-agenda rohis lainnya. Di sini saya semakin tertarik dengan rohis. Selain itu juga, saya pun mendapatkan kelompok mentoring. Alhamdulillah, saya waktu itu mendapatkan murobbi yang super kece, gokil abis, dan wawasannya luas betul. Membuat saya semakin tertarik dengan rohis dan mentoring. Yang gak kalah keren, saya sekarang satu universitas dengan beliau namun berbeda fakultas, beliau anak FIS angkatan 2012. Kalau mau tau beliau yang mana? Saat  menjadi calon ketua LDK Salim, beliau orasinya yang paling kece di depan Gedung G. Hehe pasti tau siapa kan 😝

Saya pun mengenal islam lebih dalam dan lebih baik, itu semua berkat kakak-kakak rohis dan murobbi saya. Dan saya memiliki keyakinan, saya harus berbagi kelezatan ini, kepada teman-teman yang lain, dan siswa baru nanti. Di sinilah, awal dimana saya terjun dan memilih untuk menjadi seorang aktivis dakwah. Dari pernyataan saya diatas, mengapa saya milih jalan ini, ini adalah bentuk terimakasih saya kepada kakak-kakak saya yang sudah mengenalkan saya kepada keindahan islam dan kelezatan iman.

Setelah dipelajari lebih lanjut, ternyata jalan ini adalah jalan terbaik yang harus kita tempuh. Jika kita mengingat ayat terakhir surat Al-‘Ashr, kita diberi pilihan untuk menjadi orang yang tidak merugi, dengan cara beriman dan saling mengingati dalam kebenaran dan kesabaran. Bisa dikatakan itu adalah dakwah, sehingga orang melakukannya bisa dikatan sebagai aktivis dakwah. Pendeknya surat Al-‘Ashr ini bukan berarti memiliki maknya sedikit, justru sangat banyak yang bisa kita ambil. Bagaimana tidak, jika kita perhatikan, sebenarnya surat Al-‘Ashr ini sudah menjawab, apa sih yang harus kita lakukan di dunia ini agar kita tidak masuk ke golongan orang yang merugi (masuk ke neraka)? Ya jelas, seperti yang saya jelaskan sebelumnya, yaitu beriman dan berdakwah.

Melihat keadaan saat ini, sebenernya saya sedikit miris melihat apa yang dilakukan kebanyakan golongan anak muda sekarang. Padahal nantinya kita akan dipertanyakan, “untuk apa kita habiskan masa muda kita?”.

Dalam buku Komitmen Muslim Sejati karangan Fathi Yakan, beliau menyebutkan ada tiga golongan manusia dalam menjalani hidup ini.

Pertama, golongan yang hidup untuk dunia.
          Mereka ini adalah kaum materialis -yang berpaham materi baik dalam keyakinan maupun kenyataan. Al-Quran menyebut mereka sebagai golongan dahriyin, yang pada Al-Quran disebutkan pada surat Al-An’am ayat 29 (temen-temen bisa buka sendiri yah, biar gak cuma jadi pajangan mushafnya 😝) *sebenernya sih saya aja yang males nulisnya *eh /plakkk

Kaum materialis ini mereka yakin bahwa hidupnya hanyalah di dunia ini saja. Mereka tidak mempercayai kehidupan setelah kehidupan ini, di saat manusia dihisab mengenai apa saja yang telah diusahakannya, maka dunia akan menjadi obsesi terbesarnya, puncak pengetahuannya. Ia hidup untuk dunia, menjulurkan lidah kepadanya, tenggalam dalam kesenangannya tanpa memperdulihan hisab *hmm jadi inget suatu paham yah, hehe 😝.

Kedua, golongan yang tercampakkan di antara dunia dan akhirat
   Orang-orang ini pada hakikatnya berfaham materialis, namun secara lahir mereka melaksanakan ritual-ritual ibadah. Mereka-mereka itu kebanyakan adalah orang yang goyah keyakinannya, tersesat tindakan-tindakan mereka dalam kehidupan ini, akan tetapi mereka menyangka telah berbuat kebaikan. Sekalipun mereka adalah orang-orang percaya kepada Allah dan hari akhir, tetapi keyakinan mereka ini sekadar formalitas yang terpisah secara total dari keadaan nyata mereka.

Ketiga, golongan yang menganggap dunia sebagai lahan bagi kehidupan akhirat
         Ini adalah orang-orang mukmin sejati. Orang-orang yang menyadari hakikat kehidupan ini, sebagaimana mereka mengetahui nilai dunia dibandingkan dengan akhirat. Mereka tidak dilalaikan atau disibukkan oleh dunia dalam merealisasikan tujuan mereka diciptakan. Mereka yang benar pengakuannya sebagai muslim, menganggap dunia ini adalah area untuk berkompetisi dalam menaati Allah swt. dan mencapai ridho-Nya, semua hal yang ia miliki, sejatinya adalah milik Allah swt. dan ia pun menggunakannya untuk menolong agama Allah swt. Sangat berbeda dengan kaum materialin yang menggunakan apa yang ia punyai untuk memuaskan nafsu dan syahwatnya semata.

Diantara ketiga golongan tersebut kita mau masuk ke golongan ke berapa? Saya tau temen-temen pasti maunya menjadi golongan yang ke-tiga kan??? Yoms, tiga tiga tiga~ jadi paham kan, nanti tanggal 19 April harus pilih nomor berapa? *eh wkwk

Nah balik lagi, karena kita tau kita harus memilih nomor tiga agar maju kotanya bahagia warganya. . . . . . . /plakkk

/undo/

Nah balik lagi, karena kita harus berapa di golongan yang ke-tiga, dan semoga kita berada pada golongan tersebut. Yang ingin saya tanya, apakah keluarga kita semuanya berada digolongan tersebut? Bagaimana sahabat kita? Teman-teman kita? Tetangga kita? Apa mereka ada di golongan ke-tiga? Bagaimana jika tidak?

Inilah tugas kita sebagai orang yang memilih menjadi seorang aktivis dakwah, kita musti mengajak orang-orang terdekat kita dan orang lain, agar memahami islam lebih kaffah lagi, sehingga kita semua bisa menjadikan islam sebagai pedoman hidup. Kan pasti seru tuh, kalau kita berada si Surga bisa bersama orang-orang terdekat kita (aamiin), nah maka dari itu, kita musti mengajak aga bisa sholeh rame-rame, kagak sendirian, biar kalo berdakwah nanti bisa rame-rame juga, kagak sendirian, biar dapet pahala amal jama’i juga gitu lhooo 😝. Ohya satu lagi, Surga itu terlalu luas kalo buat sendirian lho, jadi seruan rame-rame kan? hewehew

Kita mengajak bukan berarti kita sudah paling bener dan sholeh? Tapi yang perlu ditekankan disini, kita sama-sama belajar, dan memperbaiki diri agar bisa menjadi muslim yang baik, yang islam akidahnya, islam ibadahnya, islami akhlaknya, agar kita menjadi muslim sejati (dalam buku Komitmen Muslim Sejati). Setelah menjadi muslim sejati, kita musti berdakwah untuk berusaha mengislamikan keluarga kita. Setelah itu, kita berdakwah lagi untuk menciptakan masyarakat islami. Lebih jauh lagi kita harus mengislamkan negara ini, bahkan sampai kita dapat menciptakan kekhalifahan islam yang menguasai dunia ini.

Kalau dilihat-lihat, tulisan hampir lima lembar kertas letter ini yang di kerengin (-red Bold) cuma ada empat point hehe (-_-)v. Walaupun tulisan ini biasa banget atau malah aneh, saya memohon maaf sebesar-besarnya yeahhhhhhh 😉

Mungkin sekian tulisan saya pada kali ini, sekali lagi saya mohon maaf kalau terlalu banyak kekurangan dalam tulisan saya ini (Hontou ni gomenasai!!!)

Sedikit dari saya sebelum saya akhiri,

Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziah rahimahullah menasehatkan kepada teman – temannya, “Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah”. Ucapkan : “Wahai Tuhan kami, hamba-Mu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau. Masukkanlah bersama kami di Surga-Mu”.

Pun temen-temen jika tidak menemukan sayasi Surga nanti, mohon tanyakan saya pada Allah yah :"), semoga bisa bersama-sama bersua di SurgaNya. Aamiin

Wassalamu’alaykum



Tidak ada komentar:

Posting Komentar